BALIKPAPAN — Kantor Otoritas Bandar Udara (Otban) Wilayah VII Balikpapan bersama Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) Curug mengarahkan fungsi bandar udara di Kalimantan Timur agar tak sekadar menjadi tempat lalu lintas penumpang. Fasilitas penerbangan di wilayah tersebut kini didorong menjadi jalur penghubung produk lokal menuju pasar nasional hingga internasional.
Langkah tersebut diwujudkan melalui Diklat Pemberdayaan Masyarakat (DPM) bertajuk Digital Logistic for Export yang digelar pada Selasa (22/9/2026). Pelatihan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) 2026.
Kepala Kantor Otban Wilayah VII Balikpapan, Ferdinan Nurdin, menjelaskan bahwa penguatan sektor kargo merupakan strategi penting dalam merespons dinamika industri penerbangan saat ini, seperti fluktuasi harga minyak dunia dan kenaikan harga avtur. Menurutnya, pihak pengelola bandara perlu jeli memanfaatkan potensi di luar pendapatan penumpang.
“Bandar udara diharapkan tidak hanya bertumpu pada aktivitas dan penerimaan dari sektor penumpang, tetapi juga mampu mengoptimalkan potensi lain melalui pemanfaatan aset serta peningkatan aktivitas pengiriman barang dan kargo,” ujar Ferdinan saat penyampaian pengantar dalam Diklat Pemberdayaan Masyarakat (DPM) bertema “Digital Logistic for Export” Selasa (22/9/2026) melalui hybrid.
Ferdinan menilai, semakin luas akses pasar yang dijangkau oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), maka arus pengiriman kargo via udara akan otomatis meningkat. Dalam pelatihan Digital Logistic for Export, sebanyak 50 peserta dibekali wawasan praktis seputar sistem logistik, pemanfaatan teknologi, hingga langkah pengemasan dan strategi menembus pasar ekspor bersama pemateri Iko dari UKM Mendunia.
Upaya pengembangan kargo berbasis produk lokal ini juga selaras dengan langkah Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam memacu komoditas nonmigas dan nonbatu bara. Komitmen tersebut tertuang dalam Keputusan Gubernur Kaltim Nomor 100.3.3.1/K.230/2026 tentang Satuan Tugas Percepatan Peningkatan Ekspor Non Migas Non Batu Bara Provinsi Kaltim 2026–2030, di mana unsur kebandarudaraan masuk ke dalam struktur Satgas Bidang Logistik, Akses, dan Sarana Prasarana.
Selain pelatihan logistik digital, Otban VII Balikpapan dan PPI Curug turut menggelar DPM Hospitality and Effective Communication yang diikuti oleh 24 peserta. Program ini difokuskan untuk mengasah kompetensi sumber daya manusia di sektor transportasi publik agar mampu memberikan pelayanan yang ramah, profesional, dan responsif.
Kegiatan pelatihan yang melibatkan total 74 peserta tatap muka dan 75 partisipan daring via Zoom Meeting ini dibuka secara resmi oleh Kepala Bagian Administrasi Akademik dan Ketarunaan PPI Curug, Triadi Nuryanto, usai penyampaian laporan penyelenggaraan dari Kepala Unit Pelatihan PPI Curug, Ferry Ardiansyah.
Melalui sinergi ini, Ferdinan berharap para Kepala Bandara UPBU dan General Manager di wilayah kerja Otban Wilayah VII dapat mengreplikasi program serupa di daerah masing-masing.
“Pada akhirnya, konektivitas udara tidak hanya diwujudkan melalui pergerakan orang, tetapi juga melalui peningkatan kualitas pelayanan serta kemampuan untuk menghubungkan produk dan potensi ekonomi daerah dengan pasar yang lebih luas,” pungkas Ferdinan.
Nara sumber pertama menampilkan Iko Sukmo Handriadianto founder #ukm-mendunia.foundation menyatakan tujuan dari diklat selama dua hari ini (22-23 September 2026 ini untuk mewujudkan UKM menjadi PINTAR, MANDIRI dan GLOBAL yang tentunya bisa membantu menjadi penjaga stabrlitas ekonomi nasional dengan pemerataan kekuatan ekonomi dari sabang hingga Merauke. Branding-up produk Indonesia tanpa batas dan berkelanjutan.
Dijelaskan Iko Sukmo, #ukm-mendunia.foundation berbadan hukum dengan nama Yayasan Bergerak Bersama Mendunia, sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang pemberdayaan SDM UKM melatih kegiatan – Sosialisasi, Edukasi & Asistensi untuk UKM yang berorientasi pasar global menjadi “real exporter / eksportir berbadan hukum dan pelaku mandiri.
“Kami menyampaikan pemahaman bahwa Ekspor itu mudah, apalagi berbasis digital technology dan logistics simple, berawal dari personal exporter berkembang menjadi corporates exporter”, jelasnya.
Peserta diklat diajarkan cara market reseach – branding — transaksi B2C/B2B, pembayaran digital global, dan mengajarkan cam kirim mudah. sehingga UKM bisa menjadi Personal Exporter dan berkembang menjadi Corporate Exporter, berawal dari jual satuan melaui Courier, berkembang menjadi Cargo contanneran LCL, FCL, dan air cargo.
Selain itu lanjut Iko, diklat memncetak pengusaha UKM lokal yang ber-NIB atas nama usaha sendiri dari daerah masing-masing, ber KBLI/HS sesuai dengan jenis usaha yang dilengkapi sertifikasi komoditi pendukung lamnya, dan melakukan eksportasi mandiri menghasilkan angka ekspor asli asal kabupaten/kota masing-masing.
“Kami tidak mengajarkan ekspor menggunakan nama orang lain (under name) atau daerah -Branding UP’ potensi dan komoditas lokal do pasar global,” tambahnya.
Membangun sentra ekonomi berbasisi potensi komoditi dan infrastuktur lokal merata seluruh Indonesia untuk menembus pasar Intemasional.
Program ini mendapat dukungan beberapa Kementerian dan Lembaga Negara terkait. Insyaallah pelan dan pasti, bermanfaat untuk masyarakat dalam berperan memintarkan bangsa diera digital global inn.
“Kami mencoba mendampingi yang kecil untuk menjadi besar, karena kami yakin bangsa ini sesungguhnya adalah bangsa yang besar,” pungkas Iko Sukmo Handriadianto.(mn)











