*TADABBUR SURAT AL-WĀQI’AH* —Ayat 14
Oleh Masykur Sarmian
*وَقَلِيلٌ مِنَ الْآخِرِينَ*
_”Dan sedikit dari orang-orang yang kemudian.”_
—QS. Al-Wāqi’ah: 14
*Penjelasan Tematik*
Setelah menyebut bahwa sebagian besar As-Sābiqūn berasal dari generasi terdahulu, Allah menyebut sesuatu yang mengandung pesan yang sangat dalam:
*وَقَلِيلٌ مِنَ الْآخِرِينَ*
“dan sedikit dari orang-orang yang kemudian”.
Ayat ini tidak boleh dipahami secara sederhana bahwa orang-orang pada generasi belakangan pasti lebih buruk daripada generasi terdahulu. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa konteks ayat ini berbicara tentang As-Sābiqūn, kelompok dengan kedudukan spiritual yang sangat tinggi. Maka “sedikit” menunjukkan bahwa kedudukan yang sangat tinggi itu tidak mudah dicapai, terutama ketika seseorang datang pada zaman yang penuh kelalaian dan kemudahan.
Justru di sinilah letak tantangannya. Generasi awal beriman ketika Islam masih asing, perjuangan berat, tekanan besar, dan pengorbanan sangat mahal. Generasi kemudian sering menerima Islam dalam keadaan yang jauh lebih mudah: agama sudah dikenal, masjid berdiri, ilmu tersedia, dan berbagai fasilitas dakwah berkembang. Namun kemudahan itu sekaligus melahirkan ujian baru: kelimpahan dapat mengurangi rasa kebutuhan kepada Allah.
Psikologi modern mengenal fenomena *hedonic adaptation,* yaitu kecenderungan manusia untuk cepat terbiasa dengan kenyamanan. Sesuatu yang dahulu dianggap luar biasa lama-lama menjadi biasa. Kemudahan yang terus-menerus juga dapat menurunkan sensitivitas seseorang terhadap nilai pengorbanan. Ketika segala sesuatu mudah diperoleh, manusia dapat kehilangan kemampuan untuk menghargai sesuatu yang membutuhkan perjuangan.
Ada pula konsep *effort justification*, yaitu kecenderungan manusia memberikan nilai lebih tinggi kepada sesuatu yang diperoleh melalui usaha dan pengorbanan besar. Para generasi awal Islam merasakan mahalnya iman. Karena itu, iman bukan sekadar identitas, tetapi pilihan hidup yang mereka pertahankan dengan pengorbanan.
Generasi kemudian menghadapi tantangan berbeda. Mereka tidak selalu harus berjuang mempertahankan Islam dari ancaman fisik, tetapi harus berjuang mempertahankan kedalaman iman di tengah kelimpahan, distraksi, dan banjir informasi.
Hari ini seseorang dapat mendengar ribuan kajian tanpa pernah benar-benar berubah. Dapat membaca ribuan ayat tanpa pernah membiarkan satu ayat mengubah perilakunya. Dapat mengikuti berbagai majelis ilmu tetapi tetap hidup dalam pola yang sama.
Inilah yang dapat disebut sebagai information-action gap, kesenjangan antara banyaknya informasi yang dimiliki dan sedikitnya tindakan yang dilakukan. Pengetahuan yang tidak ditransformasikan menjadi amal akhirnya hanya menjadi konsumsi intelektual.
Karena itu, ayat ini seharusnya tidak membuat kita merasa lebih rendah karena hidup di zaman belakangan. Sebaliknya, ia harus menjadi tantangan: mampukah kita menjadi sedikit dari generasi kemudian yang tetap mampu mencapai derajat para pendahulu dalam kesungguhan ?
Allah berfirman:
*وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ*
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-‘Ankabūt: 69)
Ayat ini memberikan harapan bahwa kedekatan spiritual tidak ditentukan oleh zaman. Siapa pun yang bersungguh-sungguh masih memiliki jalan menuju kedudukan yang tinggi.
*Munāsabah dan Penguatan Dalil*
Allah berfirman:
*وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ*
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik…”
(QS. At-Taubah: 100)
Ayat ini penting karena memberikan jalan bagi generasi setelah mereka: bukan harus hidup pada zaman yang sama, tetapi mengikuti mereka dengan ihsan.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
*بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ*
“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.”
(HR. Muslim)
Hadis ini memberi perspektif penting bagi generasi kemudian. Menjadi sedikit bukan selalu berarti gagal. Dalam kondisi tertentu, tetap memegang kebenaran ketika banyak orang meninggalkannya justru menjadi bentuk keberanian iman.
*Pelajaran Kehidupan*
Jangan jadikan zaman sebagai alasan untuk melemah. Setiap zaman memiliki ujiannya sendiri. Generasi dahulu diuji dengan tekanan dan kekerasan; generasi sekarang dapat diuji dengan kenyamanan, kesibukan, distraksi, dan banjir informasi.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apa tantangan zaman ini ?” Tanyakan pula, “Apa kualitas iman yang harus aku bangun agar tidak kalah oleh tantangan zaman ini ?”
Kemajuan teknologi seharusnya membuat kita semakin mudah berbuat baik, bukan semakin mudah lalai.
*Renungan Peradaban*
Setiap generasi adalah pewaris sekaligus penjaga. Generasi terdahulu menanam, generasi berikutnya menerima. Tetapi menerima warisan tidak berarti otomatis mampu mempertahankannya.
Peradaban akan melemah ketika generasi pewaris hanya menikmati hasil perjuangan pendahulunya tanpa memiliki semangat untuk melanjutkan perjuangan itu. Gedung tetap berdiri, institusi tetap ada, buku tetap dicetak, simbol-simbol agama tetap terlihat, tetapi ruh perjuangannya perlahan menghilang.
Karena itu, sedikit dari generasi kemudian justru dapat menjadi energi pembaruan. Mereka adalah orang-orang yang menolak menjadi sekadar pewaris pasif. Mereka menghidupkan kembali nilai yang mulai kehilangan ruhnya, memperbarui cara menyampaikannya, dan membawa kebenaran ke tengah tantangan zaman tanpa mengubah prinsipnya.
Mungkin kita tidak hidup pada zaman para sahabat. Tetapi kita masih bisa memiliki jiwa para pendahulu: berani ketika yang lain takut, istiqamah ketika yang lain berubah, memberi ketika yang lain hanya menuntut, dan mendahului dalam kebaikan ketika yang lain masih menunggu.
Sebab yang Allah lihat bukan sekadar kapan kita hidup, tetapi bagaimana kita hidup pada zaman yang Allah pilihkan untuk kita.
Wallāhu A’lam
Samarinda, 4 Oktober 2026











