*TADABBUR SURAT AL-WĀQI’AH*–Ayat 4
Oleh Masykur Sarmian
*إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا*
“Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya.”
—QS. Al-Wāqi’ah: 4
*Penjelasan Tematik*
Setelah tiga ayat pertama mengguncang kesadaran manusia dengan kepastian datangnya Al-Wāqi’ah dan perubahan seluruh ukuran kehidupan, ayat keempat mulai memperlihatkan bagaimana peristiwa itu berlangsung. Allah tidak langsung berbicara tentang manusia, tetapi terlebih dahulu membawa perhatian kita kepada sesuatu yang selama ini kita anggap paling kokoh: bumi tempat kita berpijak.
*إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا*
Bumi akan diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat. Kata rujjat berasal dari kata raja yang menunjukkan guncangan yang kuat, berulang, dan hebat. Pengulangan bentuk kata dalam ayat ini—rujjat… rajjan—memberikan kesan intensitas yang luar biasa. Bukan sekadar bumi bergerak, tetapi sebuah guncangan yang mengguncang fondasi kehidupan manusia.
Ada pesan psikologis yang sangat dalam di balik gambaran ini. Manusia membutuhkan rasa aman. Dalam psikologi dikenal konsep psychological security, yaitu kebutuhan manusia untuk merasa bahwa lingkungan tempat ia hidup relatif stabil, dapat diprediksi, dan dapat diandalkan. Rumah, tanah, pekerjaan, keluarga, sistem sosial, dan berbagai struktur kehidupan memberikan rasa bahwa dunia ini “tetap berada di tempatnya”.
Tetapi Al-Wāqi’ah datang untuk menghancurkan rasa aman palsu tersebut. Sesuatu yang selama ini kita jadikan simbol kestabilan ternyata juga berada sepenuhnya di bawah kehendak Allah. Bumi yang setiap hari kita pijak tanpa pernah kita pikirkan, gunung yang kita lihat berdiri kokoh, dan seluruh sistem alam yang tampak stabil ternyata bukan kekuatan yang berdiri sendiri. Semuanya adalah makhluk yang tunduk kepada kehendak Penciptanya.
Inilah salah satu kelemahan psikologis manusia: *normalcy bias*, kecenderungan untuk menganggap bahwa keadaan hari ini akan terus berlangsung seperti biasa. Karena setiap pagi matahari terbit, bumi tidak berguncang, dan kehidupan berjalan sebagaimana biasanya, manusia kemudian merasa bahwa dunia akan selalu seperti itu. Kita tahu secara intelektual bahwa kehidupan bisa berubah, tetapi secara emosional kita sering bertindak seolah-olah perubahan besar tidak akan pernah datang.
Al-Qur’an mematahkan ilusi tersebut dengan satu kalimat yang sangat pendek: bumi akan diguncangkan.
Ayat ini sekaligus mengajarkan bahwa kestabilan dunia bukanlah sesuatu yang absolut. Kita boleh membangun rumah, mengembangkan kota, menata ekonomi, merancang masa depan, dan menyusun berbagai rencana kehidupan. Tetapi jangan pernah menjadikan semua itu sebagai sandaran mutlak. Sebab sesuatu yang tampak paling kokoh pun berada di bawah kekuasaan Allah.
Menariknya, ayat ini juga dapat dibaca sebagai pendidikan spiritual tentang detachment, yaitu kemampuan untuk tidak menggantungkan seluruh rasa aman kepada sesuatu yang bersifat sementara. Islam tidak mengajarkan manusia meninggalkan dunia, tetapi mengajarkan agar hati tidak diperbudak oleh dunia. Kita menggunakan dunia, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai Tuhan kecil dalam hati kita.
Karena itu, semakin seseorang memahami Al-Wāqi’ah, seharusnya semakin ia memiliki keseimbangan antara ikhtiar dan kesiapan batin. Ia tetap bekerja keras membangun masa depan, tetapi tidak hidup dengan ilusi bahwa semua rencana pasti terjadi. Ia mencintai keluarganya, tetapi menyadari bahwa perpisahan adalah bagian dari kehidupan. Ia membangun usaha, tetapi memahami bahwa harta dapat berubah dalam sekejap. Ia membangun peradaban, tetapi sadar bahwa seluruh bangunan dunia memiliki batas usia.
*Munāsabah dan Penguatan Dalil*
Gambaran tentang bumi yang diguncangkan pada hari kiamat ditegaskan Allah dalam firman-Nya:
*إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا*
“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya.”
(QS. Az-Zalzalah: 1–2)
Allah juga berfirman:
*يَوْمَ تَرْجُفُ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيبًا مَهِيلًا*
“Pada hari ketika bumi dan gunung-gunung berguncang, dan gunung-gunung itu menjadi seperti gundukan pasir yang berhamburan.”
(QS. Al-Muzzammil: 14)
Kedua ayat ini memperluas gambaran Al-Wāqi’ah: yang berguncang bukan hanya permukaan bumi, tetapi seluruh struktur alam yang selama ini dianggap kokoh.
Rasulullah SAW bersabda:
*مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ رَأْيُ عَيْنٍ فَلْيَقْرَأْ إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ وَإِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ وَإِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ*
“Barang siapa ingin melihat gambaran Hari Kiamat seakan-akan dengan mata kepala sendiri, hendaklah ia membaca: ‘Apabila matahari digulung’, ‘Apabila langit terbelah’, dan ‘Apabila langit terbelah’.”
(HR. At-Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa gambaran kiamat dalam Al-Qur’an bukan sekadar informasi, tetapi sarana untuk menghidupkan kesadaran akhirat di dalam jiwa manusia.
*Pelajaran Kehidupan*
Jangan terlalu percaya kepada kestabilan dunia. Rencana boleh dibuat, tetapi hati harus tetap bersandar kepada Allah. Kita perlu membangun kehidupan sebaik mungkin tanpa pernah lupa bahwa semua yang kita bangun bersifat sementara.
Ayat ini juga mengajarkan kesiapan menghadapi perubahan. Manusia yang terlalu melekat kepada kondisi tertentu akan lebih mudah hancur ketika keadaan berubah. Sebaliknya, orang yang menjadikan Allah sebagai pusat kehidupannya memiliki daya lenting yang lebih kuat ketika menghadapi perubahan.
*Renungan Peradaban*
Peradaban manusia sering membangun rasa percaya diri di atas stabilitas material. Kita membangun kota, sistem ekonomi, institusi, teknologi, dan berbagai struktur sosial seolah-olah semuanya akan berlangsung selamanya. Padahal sejarah menunjukkan bahwa tidak ada struktur duniawi yang benar-benar abadi.
Pesan ayat ini bukan agar manusia berhenti membangun, tetapi agar tidak menyembah hasil pembangunan. Bangunlah peradaban, tetapi jangan sombong terhadapnya. Ciptakan teknologi, tetapi jangan merasa menjadi penguasa alam. Bangun ekonomi, tetapi jangan menjadikan materi sebagai ukuran tertinggi. Dirikan institusi, tetapi jangan lupa bahwa semua institusi manusia memiliki batas.
Sebab ketika Al-Wāqi’ah benar-benar datang, bumi yang selama jutaan tahun menjadi tempat berpijak manusia pun akan berguncang.
Dan saat itu manusia akan menyadari sebuah kebenaran yang sering dilupakan ketika hidup terasa aman:
yang benar-benar kokoh bukanlah bumi tempat kita berpijak, tetapi Allah tempat hati kita bersandar.
Wallāhu A’lam
Samarinda, 24 September 2026











